Selasa, 24 Mei 2016

askep DISPEPSIA

ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH PADA Ny. L DENGAN
KASUS DISPEPSIA DI RUANGAN PERAWATAN  KASUARI
PAMA 4 DI RS BHAYANGKARA
MAKASSAR




DISUSUN OLEH :
Neli Tangdi Embong, S.Kep
N1504009

MENGETAHUI

      PRESEPTOR KLINIK                                    PRESEPTOR INSTITUSI


   ( Rosmini, S. kep, Ns)                                (Ns. Haikal Alpin, S.Kep,M.Kes, CWCCA)



SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN GRAHA EDUKASI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS
MAKASSAR
2015
 
LAPORAN PENDAHULUAN DISPEPSIA
A.   Defenisi
Dispepsia berasal dari bahasa Yunani (Dys) berarti sulit dan Pepse berarti pencernaan. Dispepsia merupakan kumpulan keluhan/gejala klinis yang terdiri dari rasa tidak enak/sakit di perut bagian atas yang menetap atau mengalami kekambuhan keluhan refluks gastroesofagus klasik berupa rasa panas di dada (heartburn) dan regurgitasi asam lambung kini tidak lagi termasuk dispepsia (Mansjoer A edisi III, 2000 hal : 488).
Dispepsia mengacu pada rasa kenyang yang tidak mengenyangkan sesudah makan, yang berhubungan dengan mual, sendawa, nyeri ulu hati dan mungkin kram dan begah perut. Sering kali diperberat oleh makanan yang berbumbu, berlemak atau makanan berserat tinggi, dan oleh asupan kafein yang berlebihan, dyspepsia tanpa kelainan lain menunjukkan adanya gangguan fungsi pencernaan (Williams & Wilkins, 2011).
Batasan dispepsia
a.    Dyspepsia organic, bila telah diketahui adanya kelainan organic sebagai
penyebabnya. Sindroma dyspepsia organik terdapat keluhan yang nyata terhadap organ tubuh misalnya tukak (luka) lambung, usus dua belas jari, radang pancreas, radang empedu, dan lain – lain.
b.    Dyspepsia non-organik atau dyspepsia fungsional, atau dyspepsia non-ulkus (DNU), bila tidak jelas penyebabnya. Dyspepsia fungsional tanpa disertai kelainan atau gangguan struktur organ berdasarkan pemeriksaan klinis, laboratorium, radiologi, endoskopi ( teropong saluran pencernaan).
B.   Anatomi Dan Fisiologi
a.     Esofagus
Merupakan saluran yang menghubungkan tekak dengan lambung. Panjang sekitar 25 cm mulai dari faring sampai pintu masuk cardiac lambung. Lapisan dinding dari dalam keluar lapisan mukosa, submukosa, lapisan otot melingkar esofagus terletak dibelakang trakhea dan depan tulang belakang setelah melalui torak menembus difragma masuk .kedalam abdomen menyambung dengan lambung.
b.    Gaster (lambung)
Gaster merupakan bagian dari saluran pencernaan yang melebar seperti kantong, terletak didalam rongga perut terutama didaerah epigastrik. Sebagian terletak dibagian kiri daerah hipokondriak dan umbilikal. Dalam keadaan kosong lambung berbentuk g dan dalam keadaan penuh lambung berbentuk seperti buah dengan kapasitas normal lambung 1 sampai 2 liter. Lambung terbagi atas cardiac gaster, fundus gaster, corpus gaster, antrum pylorus, spinkter kedua pada ujung lambung untuk mengatur pengeluaran dan pemasukkan, mengalirkan makanan masuk ke duodenum dan ketika berkontraksi spinkter ini akan mencegah terjadinya aliran balik dari usus kelambung.
Persyaratan lambung sepenuhnya otonomi, suplai saraf parasimpatis untuk lambung dan duodenum dihantarkan dari ke abdomen melalui nervus vagus. Serabut aferen mengantarkan infuls nyeri yang dirangsang oleh peregangan kontraksi-kontraksi otot dan peradangan dan dirasakan pada daerah epigastrium, serabut eferen simpatis menghambat pergerakan dan sekresi lambung.
Didalam lambung makanan ditampung, dilancarkan, digiling, dan beberapa fungsi, antara lain:
1)      fungsi motorik terdiri atas:
a.    fungsi reservoir, menyimpan makanan sehingga sedkit demi sedikit akan dicerna dan akan masuk kedalam saluran cerna.
b.    Fungsi pencampuran, memecahkan makanan menjadi partikel - partikel kecil dan bercampur dengan getah lambung melalui kontraksi otot yang mengelilingi lambung. Kontraksi peristaltik diatur oleh satu irama listrik intrinsik dasar.
c.    Fungsi pengosongan lambung, diatur pembukaan spinkter pilorus dan dipengaruhi oleh viskositas (kekentalan), volume, keasaman, aktifitas motorik, keadaan fisik serta emosi, dan obat-obatan. Lambung biasanya kosong dalam waktu empat jam setelah makan dapat lebih cepat atau lebih lambat tergantung dari banyak makanan yang masuk.
2)      Fungsi pencernaan dan sekresi
a.    Pencernaan protein oleh pepsin dan HCL, pencernaan karbohidrat dan lemak oleh amilase dan lipase dalam lambung.
b.    Sintesis dan pelepasan gastrin dipengaruhi oleh protein yang dimakan, perenggangan dan alkalinase antrum dan rangsangan vagus.
c.    Sekresi faktor intrinsik memungkinkan absorbsi vitamin B12 dari usus halus bagian distal.
d.    Sekresi muskulus berbentuk selubung yang melindungi lambung serta berfungsi sebagai pelumas sehingga makanan mudah diangkut.
e.    Pengaturan sekresi lambung dapat dibagi menjadi:
a)     Fase sefalik
Yaitu sebagai akibat melihat, mencium, memikirkan atau mengecap makanan. Menyebabkan fase sefalik berasal dari korteks serebri atau pusat nafsu makan, impuls eferen kemudian dihantarkan melalui saraf vagus ke lambung. Hasilnya kelenjar gastrik dirangsang mengeluarkan asam HCL.
b)     Fase gastrik
Dimulai antrum pilorus, distensi di antrum menyebabkan terjadinya rangsangan mekanis dari reseptor-reseptor pada dinding lambung, gastrik dilepaskan dari antrum kemudian dibawa oleh aliran darah menuju kelenjar lambung untuk merangsang sekresi pelepasan HCL.
c)    Fase intestinal
Dimulai dari gerakan kimus dari lambung ke duodenum. Adanya protein yang telah dicerna sebagian dalam duodenum tampaknya merangsang pelepasan gastrin usus suatu hormon yang menyebabkan lambung terus-menerus mensekresi cairan lambung.

C.   ETIOLOGI
Seringnya, dispepsia disebabkan oleh ulkus lambung atau penyakit acid reflux. Hal ini menyebabkan nyeri di dada. Beberapa perubahan yang terjadi pada saluran cerna atas akibat proses penuaan, terutama pada ketahanan mukosa lambung (Wibawa, 2006). Kadar lambung lansia biasanya mengalami penurunan hingga 85%. Beberapa obat-obatan, seperti obat anti-inflammatory, dapat menyebabkan dispepsia. Terkadang penyebab dispepsia belum dapat ditemukan.
Penyebab dispepsia secara rinci adalah:
a.    Menelan udara (aerofagi)
b.    Regurgitasi (alir balik, refluks) asam dari lambung
c.    Iritasi lambung (gastritis)
d.    Ulkus gastrikum atau ulkus duodenalis
e.    Kanker lambung
f.     Peradangan kandung empedu (kolesistitis)
g.    Intoleransi laktosa (ketidakmampuan mencerna susu dan produknya)
h.    Kelainan gerakan usus
i.      Stress psikologis, kecemasan, atau depresi
j.      Infeksi Helicobacter pylory
k.    Perubahan pola makan
l.      Pengaruh obat-obatan yang dimakan secara berlebihan dan dalam  waktu yang lama
m.   Alkohol dan nikotin rokok
n.    Stres
o.    Tumor atau kanker saluran pencernaan
Beberapa perubahan dapat terjadi pada saluran cerna atas akibat proses penuaan, terutama pada ketahanan mukosa lambung (Wibawa, 2006). Kadar lambung lansia biasanya mengalami penurunan hingga 85%. Dispepsia disebabkan karena kelainan organik, yaitu:
a.    Gangguan penyakit dalam lumen saluran cerna: tukak gaster atau duodenum, gastritis, tumor, infeksi bakteri Helicobacter pylori.
b.    Obat-obatan: anti inflamasi non steroid (OAINS), aspirin, beberapa Jenis antibiotik, digitalis, teofilin dan sebagainya.
c.    Penyakit pada hati, pankreas, maupun pada sistem bilier seperti hepatitis, pankreatitis, kolesistisis kronik.
d.    Penyakit sistemik seperti diabetes mellitus, penyakit tiroid, penyakit jantung koroner.
Dispepsia fungsional dibagi menjadi 3, yaitu:
a.    Dispepsia mirip ulkus bila gejala yang dominan adalah nyeri ulu hati.
b.    Dispepsia mirip dismotilitas bila gejala dominan adalah kembung, mual, cepat kenyang.
c.    Dispepsia non-spesifik yaitu bila gejalanya tidak sesuai dengan dispepsia mirip ulkus dan dispepsia mirip dismotilitas.
d.    Peranan pemakaian OAINS dan infeksi H. Pylori sangat besar pada kasus-kasus dengan kelainan organic (Panchmatia, 2010).
D.   Patofisilogi dan pathway
Perubahan pola makan yang tidak teratur, obat-obatan yang tidak jelas, zat-zat seperti nikotin dan alkohol serta adanya kondisi kejiwaan stres, pemasukan makanan menjadi kurang sehingga lambung akan kosong, kekosongan lambung dapat mengakibatkan erosi pada lambung akibat gesekan antara dinding-dinding lambung, kondisi demikian dapat mengakibatkan peningkatan produksi HCL yang akan merangsang terjadinya kondisi asam pada lambung, sehingga rangsangan di medulla oblongata membawa impuls muntah sehingga intake tidak adekuat baik makanan maupun cairan

E.    MANIFESTASI KLINIK
Klasifikasi klinis praktis, didasarkan atas keluhan gejala yang dominan, membagi dyspepsia menjadi tiga tipe:
a.    Dispepsia dengan keluhan seperti ulkus (ulkus, like dyspepsia), dengan gejala:
1.    Nyeri epigastrium terlokalisasi
2.    Nyeri hilang setelah makan atau pemberian antasida
3.    Nyeri saat lapar
4.    Nyeri episodic
b.    Dispepsia dengan gejala seperti dismotilitas (dysmotility- like dysmotility), dengan gejala:
1.    Mudah kenyang
2.    Perut cepat terasa penuh saat makan
3.    Mual
4.    Muntah
5.    Upper abdominal bloating (bengkak perut bagian atas)
6.    Rasa tidak  nyaman bertambah saat makan
c.    Dispepesia nonspesifik (tidak ada gejala seprti kedua tipe di atas) (Mansjoer, et al, 2007)
Sidroma dyspepsia dapat bersifat rigan, sedang, dan berat, serta dapat akut atau kronis sesuai dengan perjalanan penyakitnyaNyeri dan rasa tidak nyaman pada perut atas atau dada mungkin dsertai dengan sendawa dan suara usus yang keras (borborigmi). Pada beberapa penderita,makan dapat memperburuk nyeri, pada penderita yang lain, makan bisa mengurangi nyerinya. Gejala lain meliputi nafsu makan yang menurun, mual, sembelit, diare dan flatulensi (perut kembung).
Jika dyspepsia menetap selama lebih dari beberapa minggu, atau tidak memberi respon terhadap pengobatan, atau disertai penurunan berat badan atau gejala lain yang tidak biasa, maka penderita harus menjalani pemeriksan.
Menifestasi klinis lain yaitu:
a.    nyeri perut (abdominal discomfort)
b.    Rasa perih di ulu hati
c.    Mual, kadang-kadang sampai muntah
d.    Nafsu makan berkurang
e.    Rasa lekas kenyang
f.     Perut kembung
g.    Rasa panas di dada dan perut
h.    Regurgitasi (keluar cairan dari lambung secara tiba-tiba)
F.    PENATALAKSANAAN MEDIK
a.    Penatalaksanaan non farmakologis
1)    Menghindari makanan yang dapat meningkatkan asam lambung
2)  Menghindari faktor resiko seperti alkohol, makanan yang peda, obat-obatan yang berlebihan, nikotin rokok, dan stres
3)  Atur pola makan

b.    Penatalaksanaan farmakologis yaitu:
Sampai saat ini belum ada regimen pengobatan yang memuaskan terutama dalam mengantisipasi kekambuhan. Hal ini dapat dimengerti karena pross patofisiologinya pun masih belum jelas. Dilaporkan bahwa sampai 70 % kasus DF reponsif terhadap placebo.
Obat-obatan yang diberikan meliputi antacid (menetralkan asam lambung) golongan antikolinergik (menghambat pengeluaran asam lambung) dan prokinetik (mencegah terjadinya muntah)
Pengobatan dispepsia mengenal beberapa golongan obat, yaitu :
1.    Antasid 20-150 ml/hari
Golongan obat ini mudah didapat dan murah. Antasid akan menetralisir sekresi asam lambung. Campuran yang biasanya terdapat dalam antasid antara lain Na bikarbonat, AL (OH)3, Mg (OH)2 dan Mg trisilikat. Pemakaian obat ini sebaiknya jangan diberikan terus-menerus, sifatnya hanya simtomatis, untuk mengurangi rasa nyeri. Mg trisilikat dapat dipakai dalam waktu lebih lama, juga berkhasiat sebagai adsorben sehingga bersifat nontoksik, namun dalam dosis besar akan menyebabkan diare karena terbentuk senyawa MgCl2.
2.    Antikolinergik
Perlu diperhatikan, karena kerja obat ini tidak spesifik. Obat yang agak selektif yaitu pirenzepin bekerja sebagai anti reseptor muskarinik yang dapat menekan sekresi asam lambung sekitar 28-43%. Pirenzepin juga memiliki efek sitoprotektif.
3.    Antagonis reseptor H2
Golongan obat ini banyak digunakan untuk mengobati dispepsia organik atau esensial seperti tukak peptik. Obat yang termasuk golongan antagonis reseptor H2 antara lain simetidin, roksatidin, ranitidin dan famotidin.
Obat
Indikasi
Dosis
Pemberian
Efek samping
Omeperazol
Tukak peptik



Tukak duodenum
1x20 mg/hari


1x20-50mg/hari
Setiap pagi, selam 1-2 minggu, oral

Selama 2-4 hari, oral
Sakit kepala, nausea, diare
Mabuk, lemas, nyeri epigastrik, banyak gas
Lansoprazol
Tukak peptik
1x30mg/hari
4 minggu, oral
Oedem
Pantoprazol



                  
Tukak peptik, inhibitor pompa proton yang reversibel
1x40mg/har
Oral
Oedem

1.    Penghambat pompa asam (proton pump inhibitor = PPI)
Sesuai dengan namanya, golongan obat ini mengatur sekresi asam lambung pada stadium akhir dari proses sekresi asam lambung. Obat-obat yang termasuk golongan PPI adalah omeperazol, lansoprazol dan pantoprazol.
2.    Sitoprotektif
Prostaglandin sintetik seperti misoprostol (PGE) dan enprestil (PGE2). Selain bersifat sitoprotektif, juga menekan sekresi asam lambung oleh sel parietal. Sukralfat berfungsi meningkatkan sekresi prostaglandin endogen, yang selanjutnya memperbaiki mikrosirkulasi, meningkatkan produksi mukus dan meningkatkan sekresi bikarbonat mukosa, serta membentuk lapisan protektif (sebagai site protective), yang senyawa dengan protein sekitar lesi mukosa saluran cerna bagian atas (SCBA).
3.    Golongan prokinetik
Obat yang termasuk golongan prokinetik, yaitu sisaprid, dom peridon dan metoklopramid. Golongan ini cukup efektif untuk mengobati dispepsia fungsional dan refluks esofagitis dengan mencegah refluks dan memperbaiki bersihan asam lambung (acid clearance).
A.   DIAGNOSTIK
Pemeriksaan untuk penanganan dispepsia terbagi beberapa bagian, yaitu:
a.    Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium biasanya meliputi hitung jenis sel darah yang lengkap dan pemeriksaan darah dalam tinja dan urine. Dari hasil pemeriksaan darah bila ditemukan lekositosis berarti ada tanda-tanda infeksi. pada pemeriksaan tinja, jika tampak cair berlendir atau banyak mengandung lemak berarti kemungkinan menderta malabsorbsi. Seseorang diduga menderita dispepsia tukak, sebaiknya diperiksa asam lambung (Hadi, 2002). Pada karsinoma saluran pencernaan perlu diperiksa pertanda tumor,  misalnya dugaan karsinoma kolon perlu diperiksa CEA, dugaan karsinoma pankreas perlu diperiksa CA 19-9 (Vilano et al, cit Hadi, 2002).
b.    Barium enema untuk memeriksa kerongkongan, lambung atau usus halus dapat dilakukan pada orang yang mengalami kesulitan menelan atau muntah, penurunan berat badan atau mengalami nyeri yang membaik atau memburuk bila penderita makan (Mansjoer, 2007).

c.    Endoskopi
Bisa digunakan untuk memeriksa kerongkongan, lambung atau usus kecil untuk mendapatkan contoh jaringan untuk biopsy dari lapisan lambung. Contoh tersebut kemudian diperiksa dibawah mikroskop untuk mengetahui apakah lambung terinfeksi oleh Helicobacter pylori. Endoskopi merupakan pemeriksaan batu emas, selain sebagai diagnostic sekaligus terapeutik.
Pemeriksaan yang dapat dilakukan dengan endoskopi adalah:
*      CLO (rapid urea test)
*      Patologi anatomi (PA)
*      Kultur mikroorganisme (MO) jaringan
*      PCR (polymerase chain reaction), hanya dalam rangka penelitian
d.    Pemeriksaan penunjang meliputi pemeriksaan radiologi,
yaitu OMD dengan kontras ganda, serologi Helicobacter pylori, dan urea breath test (belum tersedia di Indonesia) (Mansjoer, 2007)
e.    Kadang dilakukan pemeriksaan lain,
seperti pengukuran kontraksi kerongkongan atau respon kerongkongan terhadap asam.
B.   KOMPLIKASI
Penderita sindroma dispepsia selama bertahun-tahun dapat memicu adanya komplikasi yang tidak ringan. Adapun komplikasi dari dispepsia antara lain:
a.    Perdarahan
b.    Kangker lambung
c.    Muntah darah
d.    Ulkus peptikum
Komplikasi dispepsia yaitu luka didinding lambung yang dalam atau melebar tergantung berapa lama lambung terpapar oleh asam lambung. Bila keadaan dispepsia ini terus terjadi luka akan semakin dalam dan dapat menimbulkan komplikasi pendarahan saluran cerna yang ditandai dengan terjadinya muntah darah, dimana merupakan pertanda yang timbul belakangan.
C.   Penatalaksanaan Keperawatan
Menganjurkan untuk mengatur pola makan, pilih makanan yang seimbang dengan kebutuhan dan jadwal makan yang teratur, sebaiknya tidak mengkomsumsi makanan yang berkadar asam tinggi, cabai, alkohol, dan pantang rokok, bila harus makan obat karena sesuatu penyakit, misalnya sakit kepala, gunakan obat secara wajar dan tidak mengganggu fungsi lambung.
ASKEP KASUS
                       
I.  IDENTIFIKASI
A.   KLIEN
Nama                                              : Ny.L
Tempat/tgl lahir (Umur)                : 73 Tahun
Jenis kelamin                                : perempuan
Status perkawinan                       :  menikah
Jumlah anak                                 : 3
Agama /suku                                 : Islam
Warga negara                               : Indonesia
Bahasa yg digunakan                 : Bahasa indonesia & bahasa makassar
Pendidikan                                                : SMP
Pekerjaan                                      : IRT
Alamat rumah                               : Jl. Baji pamai 3 no.7
B.   PENANGGUNG JAWAB
Nama                                  : Tn.H
Alamat                                : Jl. Baji pamai 3 no.7
Hubungan dgn keluarga            :
II. DATA MEDIK
A.   Dikirim oleh                       : UGD
B.   Diagnosa medik  
·      Saat masuk                  : Dispepsia,
·      Saat pengkajian          : Dispepsia
III.   KEADAAN UMUM
A.   KEADAAN SAKIT : klien tampak sakit sedang
B.   TANDA-TANDA VITAL
1. Kesadaran.
·      Kualitatif                    : Composmentis

·      Kuantitatif                  : Skala Coma Glasgow           
                        Respon Motorik                    :6
  Respon Bicara                   :5
                                          Respon Membuka mata   :4
                                                    Jumlah                       :15

   normal dengan hasil GCS 15
2. Tekanan darah              :100/70 mmHg          4. Nadi              : 88 x/mnt
3. Suhu.                              : 37,4°C                      5. Pernapasan : 24x/mnt
C.   GENOGRAM

Keterangan :
                                    : Laki-laki
                                    : Perempuan
                                    : Klien
                                    : Meninggal
                                    : tinggal serumah

GI  : Nenek dari Ny L sudah meninggal karena faktor usia
            GII  : Orang tua dari Ny L sudah meninggal karena faktor usia
            GIII : Ny L merupakan anak ke-2 dari 4 bersaudara dan enderita dispepsia
            GIV : Ny L mempunyai 3 orang anak yaitu 1 laki-laki dan 2 perempuan

IV.  PENGKAJIAN POLA KESEHATAN

A.   KAJIAN  POLA PERSEPSI KESEHATAN ,PEMELIHARAAN KESEHATAN
1.    Data subyektif
a.    Keadaan sebelum sakit:
Klien mengatakan mempunyai riwayat penyakit maag,apabila penyakitnya kambu klien minum obat yang telah disiapkan.                     
b.    Keadaan sejak sakit:
·         Klien mengatakan muntah.
·         Klien tampak lemah.
·         Klien slalu bertanya tentang penyakitnya
·         Klien mengatakan nyeri pada ulu hati

2.    Data obyektif
Observasi
a.TTV :
·          Tekanan darah: 140/90 mmHg
·         MAP                  : 106,7
·         Nadi                  :  80x/m
·         Suhu                 :  37,4°C
b.Tampak bintik;bintik merah pada badan pasien.
c.klien tampak gatal-gatal.
B.   KAJIAN NUTRISI METABOLIK
1.    Data subjektif
a.    Keadaan sebelum sakit:
Klien mengatakan sebelum sakit slalu makan teratur 3x sehari , nafsu makan baik,biasanya minum 4-8 gelas air putih setiap hari
b.    Keadaan sejak sakit
Klien mengatakan tidak menghabiskan porsi makan yang diberikan,biasanya hanya 4-6 sendok yang dimakan klien mengatakan tidak ada nafsu makan ,klien mengatakan nyeri saat lapar, dan nyeri pada bagian perut kiri atas.

2.    Data obyektif
a.    Observasi: klien tampak meringis
b.    Pemeriksaan fisik
·      Hidrasi lembab
·      Conjungtiva: warna putih
·      Sclera: merah muda
·      Hidung : normal, tidak ada kelainan
·      Rongga mulut: membran mukosa pucat
·      Lidah : kotor
·      Kelenjar getah bening leher : normal
·      Kelenjar parotis: normal
·      Kelenjar tyroid : normal
·      Abdomen  :
Ø Inspeksi : tidak ada kelainan
Ø Palpasi : tdk ada nyeri tekan
Ø Perkusi :timpani
Ø Auskultasi : bising usus 31x/mnt
c.    Pengukukuran berat badan
·         Sebelum sakit 47 kg
·         Waktu pengkajian 45 kg

C.   KAJIAN POLA ELIMINASI
1.    data subyektik
a.    keadaan sebelum sakit :
klien mengatakan biasanya BAB 1x sehari,dan BAK 3-5 kali / hari.
b.    keadaan sejak sakit
klien mengatakan BAB 1x/hari dan BAK 2-3x/hari
2. Data obyektif.
a.  Observasi
Bentuk feses klien lunak,dan warna urine kuning pekat.

D.   KAJIAN POLA AKTIVITAS DAN LATIHAN
1. Data subyektif
a. Kaeadaan sebelum sakit
Klien mengatakan sering melakukan aktifitasnya sehari-hari.
b. Keadaan sejak sakit
Klien mengatakan lemah,lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat tidur.
2.    Data obyektif
Ø Observasi
·      Aktifitas harian
Ø Makan            : mandiri
Ø Mandi             : mandiri
Ø Berpakaian    : mandiri
Ø Kerapian        : kurang rapi
Ø BAB                : mandiri
Ø BAK                :mandiri
Ø Mobilisasi di tempat tidur    : baik
Ø Pemeriksaan fisik
·  Thorax dan pernapasan
Ø Inspeksi          : simetris
Ø Palpasi           :tidak ada nyeri tekan
Ø Perkusi           : bunyi resonan
Ø Auskultasi      : tidak ada bunyi napas tambahan
·      Jantung.
Ø Inspeksi         : dada simetris kiri dan kanan
Ø Palpasi           : tdk ada nyeri tekan
Ø Perkusi          : tdk ada suara pekak
Ø Auskultasi     :  terdengar suara jantung SI (lub) dan SII (dub)

E.   KAJIAN POLA TIDUR DAN ISTIRAHAT
1.    Data subjektif
a.    Keadaan sebelum sakit
Klien mengatakan biasanya tidur malam dari pukul 22.00-05.00 Wita.klien mengatakan jarang tidur siang.
b.    Keadaan sejak sakit
Klien mengatakan waktu tidur tidak teratur,
2.    Data obyektif
a.    Observasi
Ekspresi wajah mengantuk        : tidak
Banyak menguap                         : tidak

F.    KAJIAN POLA PERSEPSI KOGNITIF
1.    Data subyektif
a.    Keadaan sebelum sakit
Klien klien mengatakan bahwa pendengarannya masih normal.penglihatan masi normal,dan masi aktif melakukan pekerjaanya.
b.    Keadaan sejak sakit
Klien mengatakan bahwa  selama sakit,tidak perubahan yang terjadi pada pendengaran dan penglihatan.
2.     Data obyektif
a.    Observasi
Tidak ada alat bantu yang terpasang.

G.   KAJIAN POLA PERSEPSI DAN KONSEP DIRI
1.    Data subyektif
a.    Keadaan sebelum sakit
Klien mengatakan bahwa selalu bersyukur atas segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupannya.
b.    Keadaan sejak sakit
Klien mengatakan bahwa penyakit yang dialaminya terjadi karena tidak mampu menjaga kesehatannya.

H.   KAJIAN POLA PERAN DAN HUBUNGAN DENGAN SESAMA.
1.    Data subyektif
a.    Keadaan sebelum sakit
Klien mengatakan bahagia dengan keluarganya
b.    Keadaan sejak sakit
Klien mengatakan ingin cepat sembuh dan bisa kembali kerumah ,dan bisa melakukan aktifitas seperti biasanya.

I.      KAJIAN MEKANISME KOPING DAN TOLERANSI TERHADAP STRES
1.    data subyektif
a.    keadaan sebelum sakit
klien mengatakan selama ini jika ada masalah selalu curhat di ibunya.
b.    keadaan sejak sakit
klien mengatakan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya .
2.    data obyektif
a.    observasi
Tidak ada kelainan.

J.    KAJIAN POLA SISTEM NILAI KEPERCAYAAN
1.    data subyektif
klien mengatakkan jarang beribada selama sakit,
2.    data obyektif
tidak ada Al-Quran di meja samping klien.



V.   ANALISA DATA

A.   Perbandingan data pengkajian dengan nilai normal
Data
 Normal
1.    Klien mengatakan neyeri pada bagian perut kiri atas
2.    Porsi makan tidak dihabiskan
3.    Klien mengatakan Tidak ada nafsu makannya 
4.    TD : 140/90 mmHg
5.    N : 88x/mnt
6.    Pernapasan: 22x/mnt
7.    Suhu :37,4 °C
8.    Klien BAB 1x sehari
9.    Klien BAK 3-4 x sehari
10. Klien tampak meringis
11. Klien slalu bertanya tentang penyakitnya
BB klien menurun

Tidak ada nyeri pada bagian perut

Porsi makan dihabiskan
Nafsu makan baik

120/80mmHg-140/90mmHg
60-100x/mnt
16-24x/mnt
36,5°C – 37,5 °C
1-2x sehari
-
Klien tidak tampak meringis
Klien mengerti tentang penyakitnya

BB klien tidak menurun

VI.          KLASIFIKASI DATA
Ø  Data subyektif
ü  Klien mengatakan neyeri pada bagian perut kiri atas
ü  Klien mengatakan Tidak ada nafsu makannya 
ü  Klien slalu bertanya tentang penyakitnya

Ø  Data obyektif
ü  Porsi makan tidak dihabiskan
ü  Klien tampak meringis


VII.         DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.      DS:
·         Klien mengatakan nyeri pada perut kiri atas
·         Klien mengatakan nyeri timbul saat lapar
·         Klien mengatakan susah tidur
DO:
·         Klien tampak meringis
Domain :12 : Kenyamanan
Kelas 1 : Kenyamanan Fisik
Diagnosa Keperawatan : Nyeri Akut (00132) b/d Penyakit Yang Diderita
2.      DS :  
·         klien slalu bertanya tentang penyakitnya
DO:
·          
Domain 5: pesepsi kognisi
Kelas 4: kognisi
Diagnosa keperawatan : defesiensi pengetahuan  (00126)  b/d  kurang pajanan
3.      DS
·         Klien mengatakan tidak ada napsu makan
·         Klien mengatakan muntah (+)
DO :
·         porsi makan tidak dihabiskan
·         BB klien menurun
Domain 2. Nutrisi
Kelas 1. Makan
Diagnosa keperawatan : ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh (00002) b/d ketidakmampuan mencerna makanan.
  

Rencana Asuhan Keperawaran
No
DX Keperawatan
Tujuan dan criteria hasil (NOC)
Intervensi (NIC)
Rasional
1
Nyeri Akut (00132) b/d agens cedera(
Defenisi : Pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan akibat adanya kerusakan jaringan yang actual atau potensial.
DS :
·         Klien mengatakan nyeri pada perut kiri atas
DO :
·         Klien tampak meringis
Setelah dilakukan tindakan keperawatan (2x24 jam) nyeri akut teratasi dengan kriteria:
1.    Klien mengatakan nyeri berkurang
2.    Melaporkan pola tidur yang baik.
3.    Menunjukan ekspresi waja yang baik.
Mandiri
1.    Kaji adanya nyeri.

2.    Kaji skala nyeri


3.    Kaji keefektifan tindakan penurunan rasa nyeri.
Health Edukation
4.    Anjurkan pasien atau keluarga penggunan teknik nonfarmakologis.
5.    Anjurkan pada pasien untuk hindari makanan dan minuman yang dapat mengiritasi
Kolaborasi
6.    Kolaborasikan dengan dokter tentang pemberian obat (ranitidin)

1.    Untuk mengetahui apa penyebab nyeri
2.    Untuk mengetahui berapa skala nyeri atau tingkat nyeri
3.    Untuk mengurangi rasa nyeri.



4.    Untuk mencegah nyeri bertambah.


5.    Untuk menghindai terjadinya iritasi.


6.    Untuk mengatasi rasa nyeri.
2
Diagnosa keperawatan:
defesiensi pengetahuan  (00126)  b/d  kurang pajanan
Defenisi : keiadaan atau defisiensi informasi kognitif yang berkaitan dengan topik tertentu.
Ditandai dengan :
DS:                     
·         klien slalu bertanya tentang penyakitnya
DO:

Setelah dilakukan perawatan 2x 24 jam defisiensi pengetahuan klien teratasi dengan kriteria hasil :
1.  klien memperlihatkan kemampuan untuk mengenali penyakitnya
2.  klien memperlihatkan kemampuan memahami terapi yang diberikan

Assesment
1.  kaji tingkat kemampuan/pengetahuan  pada saat ini
Mandiri
2.  berinteraksi dengan klien dengan cara yang tidak menghakimi untuk memfasilitasi pembelajaran

Health edukation
3.  beri penyuluhan sesuai dengan tingkat pemahaman klien , ulangi informasi bila diperlukan
4.  Gunakan berbagai pendekatan penyuluhan misalnya demonstrasi

Kolaborasi
5.  Rencanakan penyesuaian dalam terapi bersama pasien dan dokter untuk memfasilitasi kemampuan pasien mengikuti program terapi.


1.  Untuk mempermudah intevensi selanjutnya


2.  Membina hubungan yang baik dengan klien agar klien merasa nyaman , an mudah memahami  pengetahuan

3.  Agar klien mudah memahami informasi yang diberikan


4.  Mempermudah dalam memberikan informasi



5.  Agar mempermuah klien dalam manjalani terapi

3
ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh (00002) b/d ketidakmampuan mencerna makanan
defenisi: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik

Ditandai dengan :
DS :
·         klien mengatakan tidak ada nafsu makannya
·         klien mengatakan muntah (+)
DO:
·      porsi makan tidak dihabiskan
·        bising usus 31x/menit
·        membran mukosa pucat
·        BB klien menurun








Setelah dilakukan tindakan keperawatan (2x24 jam ) ketidakseimbangan nutrisi teratasi dengan kriteria :
1.  klien melaporkan tingkat energi yang adekuat
2.  mempertahankan berat badan
3.   menoleransi diet yang dianjurkan
Mandiri :
1. buat perencanaan makan dengan pasien yang masuk dalam jadwal makan.
2. Dukung anggota keluarga untuk membawa makanan kesukaan klien dari rumah.
3. Ketahui makanan kesukaan klien.

Health Edukation
4.  Ajarkan klien /keluarga tentang makanan yang bergizi dan tidak mahal
5.  Berikan informasi yang tepat tentang kebutuhan nutrisi.


Kolaborasi :
6.  Diskusikan dengan dokter kebutuhan stimulasi nafsu makan

7.  Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis zat gizi yang dibutuhkan.

1.  Dengan mengajak klien ,kita bisa mengetahui makanan kesukaan klien.

2.  dengan adanya makanan kesukaan ,akan meningkatkan selera makan klien.
3.  Agar klien lebih semangat untuk makan

4.  Untuk memudahkan menyiapkan makanan yang disukai klien
5.  Agar keluarga tau dan sewaktu-waktu dapat menyiapkan menu bergizi pada klien dan keluarganya.


6.  Agarklien dan keluarga tau tentang pentingnya nutrisi

7.  Agar nutrisi yang dibutuhkan klien terpenuhi

 


VIII. PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN
A.   Hari 1
No
Hari/tgl
Jam
Implementasi

Evaluasi
1
Kamis, 19-02-2015


09.00


09.15



09.30




09.45






10.05






10.30
Dx 1

1.    Mengkaji adanya nyeri
Hasil:mengetahui penyebab nyeri.
2.    Mengkaji skala nyeri
Hasil : klien mengetahui seberapa berat tingkat nyerinya.
3.    Mengkaji keefektifan tindakan penurunan rasa nyeri.
Hasil : penurunan sekala nyeri
4.    Mengnjurkan pasien atau keluarga penggunan teknik nonfarmakologis.
Hasil :pasien atau keluarga mau mengunakan teknik tersebut
5.    Menganjurkan pada pasien untuk hindari makanan dan minuman yang dapat mengiritasi.
Hasil :pasien mau menghindari makanan tersebut
6.    Mengkolaborasikan dengan dokter tentang pemberian obat (cefotaxime,sohobion)
Hasil : klien lebih terbantu
Jumat, 20-02-2015
Jam : 17.00
S : klien mengatakan masih nyeri
O : klien tampak meringis
A : masalah nyeri belum teratasi.
P : lanjutkan intervensi 1-6
2
Kamis, 19-02-2015



11.00





11.15







11.25





11.35






11.55






12.15
Dx 2
1.  mengkaji tingkat kemampuan/pengetahuan  pada saat ini
Hasil: klien tidak mengerti tentang penyakitnya
2.  berinteraksi dengan klien dengan cara yang tidak menghakimi untuk memfasilitasi pembelajaran
Hasil:klien menerima dan merasa nyaman
3.  memberi penyuluhan sesuai dengan tingkat pemahaman klien , ulangi informasi bila diperlukan
Hasil :klien mengerti tentang penyakitnya
4.  menggunakan berbagai pendekatan penyuluhan misalnya demonstrasi
Hasil : klien lebih mudah menyerap materi yang disampaikan

5.  merencanakan penyesuaian dalam terapi bersama pasien dan dokter untuk memfasilitasi kemampuan pasien mengikuti program terapi.
Hasil :klien lebih mudah dalam mengikuti terapi


Jumat, 20-02-2015
Jam :18.30
S: klien mengatakan mengerti tentang penyakitnya
O: klien tampa tenang dan tidak binggung lagi
A: masalah teratasi
P: pertahankan intervensi.

3
Kamis, 19-02-2015


12.30







12.40









13.00







13.25






13.35







13.50
Dx 3

1.  Membuat perencanaan makan dengan pasien yang masuk dalam jadwal makan
Hasil: jadwal makan untuk klien sudah tersusun
2. Mendukung anggota keluarga untuk membawa makanan kesukaan klien dari rumah sakit
Hasil: keluarga mau membawa makanan kesukaan klien ke rumah sakit
3.  Mengaajarkan klien /keluarga tentang makanan yang bergizi dan tidak mahal
Hasil:klien dan keluarga mengerti.
4.  Memberikan  informasi yang tepat tentang kebutuhan nutrisi
Hasil:  klien mendapatkan informasi baru
5.  Mendiskusikan dengan dokter kebutuhan stimulasi nafsu makan
Hasil:klien diberi obat nafsu makan
6.  Mengkolaborasi  dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis zat gizi yang dibutuhkan.
Hasil: berat badan klien bertambah
Jumat, 20-02-2015
Jam:17.00
S:klien mengatakan nafsu makannya masi kurang
O: porsi makan klien belum dihabiskan
A:masalah ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhaan belum teratasi
P: lanjutkan intervensi 1-6

Hari 2
No
Hari/tgl
Jam
Implementasi

Evaliasi
1
Jumat, 20-02-2015



14.45




15.30





15.15






15.30










15.35









15.45
Dx 1

1.    Mengkaji adanya nyeri
Hasil:mengetahui penyebab nyeri.
2.    Mengkaji skala nyeri
Hasil : klien mengetahui seberapa berat tingkat nyerinya.
3.    Mengkaji keefektifan tindakan penurunan rasa nyeri.
Hasil : penurunan sekala nyeri
4.    Mengnjurkan pasien atau keluarga penggunan teknik nonfarmakologis.
Hasil :pasien atau keluarga mau mengunakan teknik tersebut
5.    Menganjurkan pada pasien untuk hindari makanan dan minuman yang dapat mengiritasi.
Hasil :pasien mau menghindari makanan tersebut
6.    Mengkolaborasikan dengan dokter tentang pemberian obat (cefotaxime,sohobion)
Hasil : klien lebih terbantu

Sabtu,21-02-2015
Jam 14.00
S : klien mengatakan nyeri berkurang.
O : klien tidak menunjukan wajah meringis
A : masalah nyeri teratasi
P: pertahankan intervensi
2
Jumat, 20-02-2015



16.00







16.15









16.35







16.45




17.00







17.30
Dx 2

1.  Membuat perencanaan makan dengan pasien yang masuk dalam jadwal makan
Hasil: jadwal makan untuk klien sudah tersusun
2. Mendukung anggota keluarga untuk membawa makanan kesukaan klien dari rumah sakit
Hasil: keluarga mau membawa makanan kesukaan klien ke rumah sakit
3.  Mengajarkan klien /keluarga tentang makanan yang bergizi dan tidak mahal
Hasil:klien dan keluarga mengerti.
4.  Memberikan informasi  yang tepat tentang kebutuhan nutrisi
Hasil:  klien mendapatkan informasi baru
5.  Mendiskusikan dengan dokter kebutuhan stimulasi nafsu makan
Hasil:klien diberi obat nafsu makan
6.  Mengkolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis zat gizi yang dibutuhkan.
Hasil: berat badan klien bertambah

Sabtu, 21-02-2015
Jam 14.00
S: klien mengatakan nafsu makanya belum meningkat.
O: porsi makan klien tidak dihabiskan dank lien tampak lemah
A: masalah ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhaan  belum teratasi
P: lanjutkan intervensi 1-6


Hari 3
No
Hari/tgl
Jam
Implementasi

Evaluasi
1
Sabtu, 21-02-2015



14.45










15.00












15.20








15.30








15.45







16.00
Dx 1

1.    Membuat perencanaan makan dengan pasien yang masuk dalam jadwal makan
Hasil: jadwal makan untuk klien sudah tersusun
2.    Mendukung anggota keluarga untuk membawa makanan kesukaan klien dari rumah sakit.
Hasil: keluarga mau membawa makanan kesukaan klien ke rumah sakit
3.    Mengajarkan klien /keluarga tentang makanan yang bergizi dan tidak mahal
Hasil:klien dan keluarga mengerti.
4.    Memberikan informasi  yang tepat tentang kebutuhan nutrisi
Hasil:  klien mendapatkan informasi baru
5.    Mendiskusikan dengan dokter kebutuhan stimulasi nafsu makan Hasil:klien diberi obat nafsu makan
6.    Mengkolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis zat gizi yang dibutuhkan.
Hasil: berat badan klien bertambah
Minggu :22-02-2015
S :klien mengatakan nafsu makannya sudah meningkat
O: porsi makan klien dihabiskan
A: masalah  ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh teratasi
P:pertahankan intervensi


DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddart. 2002. Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8 Vol. 2. Jakarta: EGC
Hidayat. 2009. Asuhan Keperawatan dengan Klien Dispepsia. http://hidayat2.wordpress.com/2009/04/17/askep-dispepsia/
Inayah Iin. 2004. Asuhan Keperawatan pada klien dengan gangguan sistem pencernaan, edisi pertama. Jakarta: Salemba Medika.
Manjoer, A, et al. 2000. Kapita selekta kedokteran, edisi 3. Jakarta: Medika aeusculapeus
Suryono Slamet, et al. 2001. Buku ajar ilmu penyakit dalam,  jilid 2. Jakarta: FKUI
Doengoes. E. M, et al. 2000. Rencana asuhan keperawatan, edisi 3. Jakarta: EGC
Price & Wilson. 2006.  Patofisiologi, edisi 4, Jakarta, EGC